Berkabut Ria di Tepian Waduk Sermo

Jum’at, 9 Oktober kemarin bersepuluh teman tengah meluangkan waktunya untuk merasakan camping di tepian Waduk Sermo, Kokap, Kulon Progo. Berbekal tenda, alat masak dan alat penunjang camping lainnya kami bersepakat untuk sementara “menanggalkan” kesibukan dan nestapa hati masing-masing pribadi, untuk meraih kesenangan dari sebelum petang dimalam sabtu menuju pagi di hari esoknya.

Sebuah lahan terbuka beralas rumput yang sedang hijau-hijaunya diawal musim penghujan menjadi tempat kami memancang patok-patok tenda. 3 tenda ukuran 3-4 orang telah gagah berdiri berdekatan, untuk kami jadikan peneduh jikalau malam semeribit angin mulai menghempas, dan juga jaga-jaga kalau hujan tiba-tiba mendera.

Oh iya, ternyata pihak Pokdarwis Waduk Sermo yang menyediakan tempat camping ini ternyata sudah tanggap dalam melayani pengunjung walau ditengah pandemi.

BACA JUGA :   Sejarah Berdirinya MAPALA UPN “Veteran” Yogyakarta

Adalah protokol kesehatan yang sangat mulus terjalankan dengan baik. Dimulai dari screening pengunjung, ia memilah pengunjung lokal dan pengunjung luar jogja, diminta menunjukkan ktp atau hal yang membuktikan bahwa dia pengunjung lokal, jika terdapat pengunjung luar jogja maka akan dimintai surat bebas covid-19.

Kemudian harus mencuci tangan sebelum masuk area camping dan diwajibkan menggunakan masker. Pengunjung dibatasi hanya 300 orang dan satu yang unik adalah setiap kelompok camping akan disediakan toilet sendiri-sendiri dan diberikan kunci, hal itu dimaksudkan untuk mengurangi resiko dari tertularnya covid-19 dari kelompok lain jikalau terjadi hal yang tidak diinginkan.

BACA JUGA :   Inilah Daftar Nama Dan Alamat MAPALA Di Jogjakarta

Sekitar jam 5 sore kami sampai di tempat camping tersebut, terlihat masih sepi, tampak hanya 5-6 tenda pengunjung lain yang telah mendahului kami. Terlihat juga oleh kami di pojokan lahan belum ada yang menempati, alhasil kami putuskan untuk mendirikan tenda disana.

Karena tempat yang cenderung lebih menyendiri untuk privasi kami selama camping semalaman itu. Disambi para laki-laki mendirikan tenda, para juru masak yang kebetulan perempuan sigap menyiapkan minuman hangat terlebih dahulu. Kopi dan teh diseduhnya dimenjelang temaram datang, tak lupa bekal kentang dan sosis siap menunggu giliran untuk dimasak.

Disepanjang malam gema suara nyanyian membersamai gitar yang dipetik jari-jari seseorang diantara kita. Dari mulai lagu lawas kepunyaan iwan fals sampai lagu terbaru artis-artis tiktok bergantian dilantunkan.

BACA JUGA :   Bersepeda ke Nepal Van Java

Ah indahnya malam ini… serasa lepas segala penat, seakan luruh segala peluh. Api unggun tak lupa dinyalakan, berkotak-kotak kayu dihabiskan sampai menjelang surya tiba.

Momen yang ditunggu, walau tampak malu kabut kali ini. Hanya sedikit ia menampakkan diri. Dingin semeribit pagi, kembali dipanaskan kopi. Diminum pelan-pelan sambil mengais sisa-sisa candaan yang telah banyak dikeluarkan semalam.

Setelah mulai cahaya sedikit memanas ketika menyentuh kulit, bergegaslah kami membongkar tenda dan membereskan peralatan. Bersiap untuk pulang dengan rona ceria tampak dari lesung senyum peserta camping.

Sambil berharap kelak kita dapat mengulanginya dilain kesempatan waktu. Rowo/MPA 017.234

BAGIKAN