Catatan Petualang;Kobar Senopati #1

Jadi, apa arti petualangan bagimu? Tanya Pak Qodir, salah satu “pemangku” gunung dipucuk Nusantara ini.

_

Namaku adalah Kobar Senopati, aku adalah lelaki yang tengah menikmati kobarnya usia muda, layaknya namaku. Beringas dan tak kenal takut seperti itu gambaranku sekarang. Dari semenjak lulus di sekolah menengah, ku nisbatkan diriku untuk “menjajal” segala medan di negeri ini (maklumlah jiwa pemuda). Tidak ada alasan selainku hanya penasaran dari berbagai cerita dan video dari para pegiat alam yang kutonton di Youtube. Bagaimana seru dan menegangkannya mereka dalam mengarungi cerita menapak alamnya. Belum lagi jika ada sedikit adegan yang bahaya dan menantang. “Ah, rasanya aku harus mencoba seperti itu” Tukas batinku menggebu-gebu.

Dimulai dari pertengahan bulan oktober, kala hujan tengah asyik sering menuruni bumi. Kuniatkan hati untuk pergi sedikit menjauh dari kota, keujung Nusantara. Mendaki gunung antah-berantah yang sepi pengunjung. Termotivasi dari salah satu channel di Youtube yang melakukan solo hiking di gunung tersebut. Kebetulan masa studiku di perkuliahan tak sedang sibuk. Hanya sesekali aku bimbingan skripsi, itupun jika penyakit malasku tak kambuh. Jadi, bisalah barang sebulan aku mengistirahatkan raga dan rasa untuk pergi melanglangbuana.

BACA JUGA :   Dea Maharani Gadis Petualang YouTuber Alam Bebas - Bushcraft

Dari kos aku pergi dengan diantar temanku menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Sebelumnya sudah ku booking tiket kereta api melalui aplikasi diponsel dengan tujuan Surabaya. Sesampainya di Stasiun ku lihat hiruk-pikuk kota yang masih terjaga keasriannya. Pedagang asongan dan para petugas stasiun lalu lalang memperjuangkan nasibnya. Aku naik di gerbong no.5 dikursi 15c, berdampingan dengan ibu-ibu paruh baya dan anak kecilnya. Sepanjang jalan anganku semakin tak sabar untuk segera sampai ke tujuan utamaku. Namun memang harus sabar, dengan budget yang bisa dibilang pas-pas an aku harus rela menempuh perjalanan darat.

BACA JUGA :   Nongkrong Haha-hihi Sembari Berdiskusi, di Taman Galia Mapala UPN Jogja.

Berbekal tas carrier 60+ lt asli buatan Indonesia, dan dengan peralatan dan perbekalan seadanya dan setahuku, aku akhirnya sampai ke Surabaya. Kota Pahlawan yang sangat kentara suasananya, dari mulai gaya bicara dan mimik wajah yang terkesan tegas dari para penghuninya. Tepat di depan pintu stasiun terlihat warung makan yang cukup sederhana, dan segera bergegas aku kesana untuk menuruti perutku yang dari di dalam kereta sudah memunculkan bunyi-bunyian kelaparan.
“Bu, nasi rawon satu nasinya satu setengah ya” Kataku sewaktu memesan makanan.

BACA JUGA :   Film Survival Bertahan Hidup di Pulau ( Cast Away )

Selepas perut terisi, ku lanjutkan perjalananku kembali. Dari ponsel yang baterainya telah berkedip-kedip, aku memesan ojek online dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak. Sekitar 1 jam perjalanan akibat sedikit macet, hamparan laut sudah mulai kelihatan, sampailah aku di Pelabuhan Tanjung Perak. Langsung ku menuju loket penukaran tiket online. Dan ternyata, kembali alam memang tidak bisa ditebak. Berdasar informasi dari penjaga tiket, gelombang di lautan sedang pasang-pasangnya. Menyebabkan kapal tidak berani berlayar dan harus menunggu sampai gelombang bersahabat kembali. “Ah sial” pekikku. Aku yang hanya seorang diri kini harus rela menunggu. Dengan tanpa memikirkan kejadian diluar kendali seperti ini, terpaksa aku harus menunggu. Dan jika sampai esok hari baru bisa berlayar dimana aku harus tidur?

Bersambung…

(Rw MPA 017.234)

BAGIKAN