MAPALA UPN, ADA UNTUK SESAMA (Refleksi Gempa Jogja 2006)

GALIA NEWS ( Informasi Online Mapala UPN Jogja ) – Gempa Jogja Tahun 2006 seakan tak pernah bisa dilupakan walaupun sudah berlalu 15 tahun lalu. Waktu itu, pagi hari sekira pukul 06.00 kami yang masih terlelap dibangunkan oleh getaran bumi yang begitu hebat. Kami yang tertidur pulaspun terkejut, bangun dan dengan refleks pintu ruang tamu yang sempit itupun kami terobos.

Kala itu kami satu kontrakan kebanyakan adalah anggota Mapala UPN ” Veteran” Yogyakarta, diantaranya Awan Setiawan, Wawan “Tegal” Himawan, Kusumawijaya “Bagong”, Slamet “Memet” Widodo, Dandy “Blacky” Rulyantoni Simangunsong dan aku Redemptus “Titus Brutus” Darus Triusada yang sebenarnya hidup menumpang saja.

Saat itu sepersekian detik secepat cepatnya kami berhambur berlarian ke sawah belakang rumah yang luas dan lapang. Jalanan kecil yang membelah areal persawahan yang hijau oleh rerumputan tampak seperti lembaran karpet hijau yang bergelombang karena dihempaskan.

Tak lama gempa pun berhenti, sesaat kemudian nun jauh disana tampak Gunung Merapi yang gagah berdiri meletupkan kepulan asapnya yang membuat kami berkesimpulan sementara bahwa gempa yang terjadi adalah gempa vulkanik dari Gunung Merapi yang erupsi, yang tak beberapa lama berselang kamipun harus merevisi kesimpulan kami bahwa gempa kali ini adalah gempa yang bersumber bukan dari gunung meletus.

Sesaat kemudian kami kembali ke arah pemukiman, berapa rekan melihat situasi sekitar, mulai terdengar isak tangis dari tetangga seberang jalan, rumah tua kecil di seberang gang masuk kontrakan kami rubuh, meruntuhi nenek renta yang tinggal di dalamnya.

Naluri kamipun meronta untuk bergerak, masing masing lalu mengambil motor yang masih terparkir rapi, bergerak berpencar melihat situasi kota, akupun memilih melihat situasi terdekat di jalan Solo. Setiba di jalan Solo aku sempat terprovokasi isu tsunami yang merubah dua jalur jalan Solo berubah menjadi satu arah, semua orang panik memacu kendaraannya dari arah perempatan Babarsari ke arah Solo. Demikian juga aku turut panik, walau kemudian setelah dua kilometer ikut arus kebodohan itupun berakhir karena logikaku mulai mengalahkan kepanikan dalam diri.

BACA JUGA :   FOTO: Mapala Upn Kibarkan Bendera Upn Jogja di Puncak Cartensz Pyramid

Motorpun kuputar balik, kembali kearah Jogja kini aku terpikir tempat kerjaku di Rajawali Outdoor, sebuah toko alat alat Outdoor milik senior Yosep “Bang Topeng” Effendi di bilangan jl Solo seputar Flyover Janti. Tiba di depan toko sudah berdiri Bang Topeng yang sedang mengamati kondisi tokonya yang roboh di sisi terasnya saja, satu kalimat pendek saja terlontar yang kumaknai perintah taktis darinya.

” Ke sekret (Sekretariat Mapala UPN) saja, monitor informasi di HT, siapkan pelampung jaga jaga”, ujarnya.

” Siap bang”, pendek juga kujawab dan kemudian kupacu motorku ke Sekretariat Mapala UPN “Veteran” Yogyakarta di Kampus Terpadu Condong Catur. Tiba di taman Mapala tampak kesibukan yang tidak biasa, teman – teman yang berpencar dari kontrakan tadi juga sudah ada disini.

Beberapa anggota tenggelam dalam kesibukan mempersiapkan segala sesuatu, sesekali berbincang tapi bukan bersenda gurau, lebih ke berbagi dan menggali informasi. Sejenak kemudian dari komunikasi pesawat HT tertangkaplah informasi pendek : ” Sekitar Jalan Imogiri parah”.

Berdasar pesan itu, segera kami bergegas, dengan membawa peralatan standar Rescue (High Risk) dan obat – obatan PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) kamipun bergerak, sebelum jam 10 pagi kami sudah memunggungi pagar kampus Condong Catur menuju jalan Imogiri.

Memasuki jalan Imogiri, hati yang berduka melihat bangunan retak dan runtuh sepanjang jalan ini menjadi semakin sedih, pasalnya kami saksikan kerusakan yang semakin parah di sepanjang jalan Imogiri. Rumah dan gedung runtuh tak berbentuk bahkan ada yang rata dengan tanah, sama sekali tak menyisakan bidang dan ruang untuk tinggal.

Belum jauh kami susuri jalan beraspal kami memutuskan masuk jalan kecil menuju ke sebuah desa yang terpisah dari jalan besar oleh areal persawahan. Tiba di desa yang kemudian kami tahu bernama “BOTOKENCENG” kamipun parkir motor, segera kamipun menyebar membawa alat obat obatan PPPK, kami berikan pengobatan pada yang terluka.

BACA JUGA :   MAPALA UPN YOGYAKARTA kembali kibarkan bendera Merah Putih Raksasa di Pucuk MONJALI

Kulihat sebuah rumah ambruk sama sekali, ada seorang perempuan yang sementara kuberikan pada luka kakinya, biar ibu ini tidak tegang akupun benbincang dengannya.

“Pundi tiangipun ingkang griya menika Bu (Dimana orang yang punya rumah ini Bu)”, tanyaku sambil menunjuk rumah yang roboh itu.

“Sampun dikubur mas, lha wong sampun disemuti (sudah dikubur mas, sudah disemuti)”, ujarnya lirih pasrah, untuk kali ini giliran aku pula yang tegang.

Setelah kami keliling kampung untuk memberikan pengobatan, kamipun berembuk sejenak dan diputuskan harus ada posko atau tenda pengungsian untuk warga disini. Dan setelah itu kamipun segera mencari tempat yang luas dan mudah dijangkau aksesnya. Dari informasi warga ada tanah kosong di pinggir jalan yang bisa digunakan.

Sementara kami mempersiapkan segala sesuatu, tampak ada mobil dobel gardan masuk menyusuri jalanan desa, yang ternyata setelah kami berbincang dan berkoordinasi dengan pengendaranya adalah anggota Yayasan Obor Indonesia, dari situlah kami berkolaborasi untuk membangun posko dan tenda pengungsian menampung warga desa Botokenceng.

Setelah bekerja seharian hingga tiba malam, akhirnya posko pengungsian kami siap. Tenda peleton pinjaman dari KSR PMI Unit UPN berhasil berdiri, dengan alas seadanya terlebih dahulu warga mulai kami evakuasi ke tenda pengungsian. Partner kami dari Yayasan Obor Indonesia juga memfasilitasi genset untuk malam hari bahkan di kemudian hari dipinjamkannya juga mobilnya untuk evakuasi dan distribusi sembako.

Di dekat tenda pengungsian, tepat di pinggir jalan Imogiri ada sebuah warung sate yang masih bagus kondisinya walaupun beberapa sisi dinding retak, itulah kami gunakan sebagai posko. Kami bersihkan dari puing lalu kami pasang HT beserta antenanya, dan di kemudian hari posko modifikasi ini penuh dengan barang bantuan dari berbagai sumber yang kemudian kami distribusikan, bukan hanya untuk warga Desa Botokenceng saja, bahkan kami didistribusikan ke desa dan wilayah lain yang membutuhkan.

BACA JUGA :   Dear Mahasiswa UPN Jogja, Mau Kuota Internet Gratis Daftar Disini

Semakin hari semakin banyak bantuan berdatangan, mulai dari bahan sembako, pakaian pantas pakai, bahkan tenaga relawan juga bertambah. Himpunan Mahasiswa Fakultas Ekonomi mulai bergabung, UKM Bola juga bergabung, dan relawan relawan lainnya lagi juga berdatangan, sumberdaya mengalir membantu distribusi sembako dan evakuasi warga. Mobil ambulans kampus-pun dipercayakan kepada kami untuk evakuasi warga, tentunya ini tak lepas dari peran Mas Ferhat (Anggota Kehormatan dan Pembina Mapala UPN) yang saat itu menjabat di salah satu bagian di Rektorat UPN ” Veteran” Yogyakarta.

Selain merawat dan menampung pengungsi, Posko Mapala UPN di Botokenceng menjadi semakin banyak menerima dan menyalurkan bantuan. Kadang saya berfikir, saat bencana datang dan ketika kita bergerak menjadi pioner, maka bukan hanya warga yang terdampak saja yang kita bantu, tetapi kita juga membantu orang – orang yang punya keinginan hati membantu tetapi tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana harus melakukannya.

Kurang lebih sebulan kemudian, ketika warga sudah mulai meninggalkan posko dan tenda pengungsian, ketika bantuan tanggap darurat sudah mulai massif berdatangan baik dari Pemerintah maupun dari NGO, berdasarkan hasil diskusi bersama dan maka posko Mapala UPN di Botokenceng diputuskan ditutup dan personil ditarik ke Posko pusat di Kampus UPN ” Veteran” Yogyakarta di Condong Catur untuk kemudian melanjutkan program pemulihan pasca bencana.

Gempa Jogja Tahun 2006 telah berlalu 15 tahun yang lalu, namun segala kenangannya tidak akan pernah dilupakan oleh kita semua, terkhusus bagi para relawan penderma kasih yang tulus berkerja untuk kemanusiaan.

Terima kasih MAPALA UPN ” Veteran” Yogyakarta yang telah ada menjadi jalannya Tuhan memberikan pelajaran kehidupan, mengimplementasikan ketulusan dalam membantu sesama yang akan menjadi bagian dalam membentuk karakter diri hingga mati nanti.

(Brutus/MPA 00.132)

BAGIKAN