(Sebenarnya) MAPALA Tidak Seburuk Itu Kok

GALIA NEWS ( Informasi Online Mapala Upn Jogja) – Menjadi seorang MAPALA bukanlah hal yang mudah. Dari mulai harus melalui beberapa tahap pendidikan yang katanya menjadikan diri ini kuat, berani, dan mawas diri, senioritas yang masih menjadi budaya, sampai dituntut menyelesaikan banyak masalah dalam satu waktu, dan masih banyak hal lainnya.

Belum lagi dengan adanya pandangan-pandangan negatif dari mahasiswa yang kami anggap biasa, karena hanya MAPALA yang luar biasa!! Dengan entengnya mereka mengatakan MAPALA itu MAhasiswa PAling LAma, mereka itu jarang mandi, hidup seenaknya, jalan-jalan mulu, ga mikir kuliah, orangnya serem, dll.

Aduhh, pliiss dechh…! Kami tidak seperti apa yang kalian katakan. Kalo kalian bilang kami adalah mahasiswa paling lama itu bukan karena kami adalah MAPALA, tapi sebagian besar dari kami berpikir untuk apa lulus cepat?! Kami ingin menikmati saat-saat yang tidak akan terulang lagi di kemudian hari. Seperti banyaknya kegiatan pendidikan, menolong manusia, ikut kejuaraan, explore keindahan alam. Jadi kami meng-hindari wisuda usia dini untuk menikmati masa kejayaan ini. Sebagian dari kami juga ada kok yang lulus cepat dan mendapat predikat cumlaude!! Kemudian sebagian lagi bukannya tidak ingin lulus cepat, tapi banyak faktor yang membuatnya tidak dapat lulus cepat. Dari mulai pribadi yang malas, tidak bisa mengerjakan skripsi, terlalu asik main, sulit mengejar ketertinggalan, dll. Intinya bukan MAPALA yang menyebabkan itu terjadi, tapi memang pribadinya saja.

BACA JUGA :   MAPALA UPN, Shooting Bareng Si Bolang Trans7

Kalau soal jarang mandi itu memang hal wajar, karena kami memang orang lapangan. Dalam kondisi dilapangan, bisa mandi adalah momen yang belum tentu dapat mudah dinikmati. Mungkin dari banyaknya kejadian di lapangan yang mengharuskan kami untuk tidak mandi itulah sebagian “saudara” kami akhirnya terbiasa tidak mandi, meski mempunyai waktu di kehidupan sehari-hari. Ada juga memang yang beranggapan mandi hanya untuk orang-orang kotor, lalu parahnya, dirinya seringkali tidak merasa kotor, hingga mandi 7 hari sekali menjadi kebiasaan~. Orang-orang ini yang harusnya dipandang jarang mandi, bukan MAPALA. Toh saya yakin sekalipun mereka berada di UKM lain juga akan melakukan hal serupa.

Kemudian hidup seenaknya. Ya, iyalah… Bener dong kita memang harus hidup seenaknya. Kalau tidak enak ngapain hidup. Hidup seenaknya di mata kami adalah mengerjakan apa yang kami bisa dan meninggalkan yang kami anggap tidak bisa (MAPALA kok ra iso) atau tidak penting. Jadi hidup seenaknya seperti apa yang kalian maksud, wahai, mahasiswa biasa??

BACA JUGA :   Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan (KDKL) Hikespi Mapala Upn Jogja

Mahasiswa Pencinta Alam dari kata depannya saja sudah jelas bahwa kami ini mahasiswa, maka sangat tidak masuk akal jika kami tidak memikirkan kuliah. Artinya kami sangat menyadari fungsi dan tugas kami sebagai mahasiswa dan mungkin tanggung jawab sebagai anak rantau yang dikuliahkan oleh orangtua. Sebenarnya kami hanya berusaha menjadi mahasiswa ideal. Hanya saja faktor-faktor dijauhi teman sejurusan, didiskriminasi dosen, tugas-tugas yang tidak dimengerti, dan kekesalan lainnya terkait proses perkuliahan membuat kami lebih betah menghabiskan waktu di sekretariat yang kami anggap rumah sendiri dan memang benar-benar seperti rumah sendiri karena sebagian dari kami memang tinggal disana.

Berbicara mengenai kami yang jalan-jalan mulu sebenarnya tidak sesimpel yang kalian pikirkan. Biasanya jalan-jalannya kami malah mempunyai tujuan yang sangat jelas, bukan sekedar rekreasi belaka. Saat kalian bilang kami ini jalan-jalan seringkali justru itu adalah proses pendidikan yang sedang kami jalani, dan hal itu bukanlah jalan-jalan yang menyenangkan seperti yang sedang kalian anggap itu. Seringkali kami berpergian dengan mengemban tugas mulia seperti berangkat ke lapangan saat terjadinya bencana, ehh, kalian malah bilang itu jalan-jalan, kan jadi terdengar sepele. Ketika kami melakukan eksplorasi juga biasanya itu adalah program kerja dari organisasi kami sendiri.

BACA JUGA :   Cocok Untuk Camping, Hammock Camping Ini Dijual 30 Ribu di Shopee

Mungkin banyak dari kalian yang berpikir bahwa kami adalah orang-orang kaya. Kalian salah besar, nyatanya sebagian dari kami bahkan mau makan saja kebingungan karena tidak ada uang. Lagipula sebagian besar kegiatan lapangan yang kami lakukan itu menggunakan uang negara, alat-alat organisasi yang kami beli pun itu merupakan milik negara, dan kami hanya memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh kampus.

Ada yang bilang anak MAPALA itu serem. Kalian pikir kami ini hantu? Atau dosen killer? Garis-garis pada wajah kami ini menandakan ketegasan. Rambut gondrong kami ini adalah trend yang membuat kami merasa semakin keren. Untuk penampilan yang terlihat urak-urakan ini adalah gaya kami yang memiliki jiwa seni. Mungkin sudah tertanam dalam jiwa-jiwa kami untuk tidak terlalu mementingkan penampilan dan berusaha hidup sealami mungkin.

1
2
BAGIKAN